Wening Handayani

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Undangan untuk orangtua

Undangan untuk orangtua

Dia tertunduk. Aku lihat tangannya mengepal. Hei, aku lihat airmata berganyut diujung kelopak matanya.

“Kenapa mas? Ada masalah di rumah? Dengan orang tuamu?”, tanyaku pelan.

Anak lelaki berumur 16 tahun itu terus menunduk. Pagi ini, sengaja aku memanggilnya. Aku perlu tahu apa penyebab dia sering tidak masuk, tak hanya di pelajaran yang aku ampu, tapi juga di pelajaran sebagian besar guru lain. Hal yang sangat berbahaya untuk kelanjutan studinya bila dia terus melakukan hal itu. Sekolah kami mensyaratkan kehadiran 90 persen untuk bisa mengikuti test.

“Iya bu”. Lirih kudengar jawabannya. Ah,ini bukan yang pertama. Banyak siswa-siswa disekolahku yang seperti dia: bermasalah dalam studi karena masalah yang dia bawa dari rumahnya. Dengan perlahan, aku mengajaknya berbicara untuk melepaskan uneg-unegnya. Dan kembali, aku dengar cerita yang hampir sama dengan yang pernah kudengar sebelumnya. Cerita yang mirip dari siswa yang berbeda, pada waktu yang berbeda. Dia bercerita tentang bapaknya yang selalu marah padanya, tidak menghargainya, menafikkan semua hal baik yang dia lakukan. Dia merasa tak ada cinta dari bapak untuknya. Ibunya yang hanya menurut saja pada bapaknya membuatnya kecewa lebih dalam. Dia pun berpikir tak ada gunanya dia berbuat baik. Tak ada gunanya dia mencoba berubah. Dia yakin stempel anak bengal itu akan selalu lekat padanya apapun yang dia lakukan. Seberapa kuat dia mencoba melakukan hal-hal baik, dia tetaplah jelek dimata bapaknya. Astaghfirullah. Perih rasanya mendengarnya bercerita. Tak bisa kutahan lagi, aku ikut menangis melihatnya berupaya kuat menahan tangisnya runtuh. Intuisiku sebagai guru tau: dia jujur bercerita tentang apa yang dia rasakan. Meskipun demikian, aku yakin ini hanyalah kegagalan sebuah hubungan anak dan orang tua untuk saling memahami. Aku yakinkan dia, betapa sebenarnya bapaknya pasti sangat menyayanginya. Apa yang bapak lakukan kepadanya mungkin bentuk kekecewaan atas harapan yang dia tumpukan pada anak sulung kebanggaannya. Aku berupaya meyakinkannya bahwa menjadi baik adalah kewajiban kita sebagai manusia.

Cerita itu adalah penggalan cerita kecil tentang permasalahan siswa di SMK tempat aku mengajar. Hampir 90 persen pemicu kegagalan studi siswa kami adalah masalah yang dia bawa dari rumah. Dan sebagian besar, adalah karena perceraian orangtuanya atau karena dia harus tinggal tanpa orangtuanya, terutama ibu. Sang ibu harus bekerja keras menghidupi keluarga bahkan sampai luar negeri demi tegaknya periuk. Tak sedikit yang tinggal hanya dengan kakek atau neneknya yang telah renta. Ya, angka perceraian di daerah kami memang cukup tinggi dan indeks tingkat pendidikan juga belum setinggi daerah lain.

Cerita demi cerita yang kudapatkan dari para siswa membuatku miris. Bagaimana mungkin sekolah menjadi satu-satunya yang diharapkan untuk membuat seorang siswa menjadi baik? Bagaimana dengan lingkungan tempat dia bertumbuh? Bagaimana dengan keluarga yang membentuk karakternya sejak dia bahkan baru bisa menangis saja? Tak adakah kepedulian masyarakat untuk mengoptimalkan keberadaan keluarga sebagai pendidik yang utama?

Dan ketika pemikiranku sampai pada fakta banyak anak yang masalah studinya disebabkan oleh luka hati akibat perselisihan dan bahkan perceraian bapak ibunya, kembali muncul pertanyaan dalam benakku: Mengapa begitu mudah sebuah keluarga berpecah dan mengorbankan perasaan anak-anaknya? Kenapa mereka dulu menikah? Tak bisakah mereka bertahan untuk anak-anaknya? Ah, pertanyaan terakhir harus kulupakan. Aku harus berprasangka baik, mereka pasti memilih bercerai karena itu yang terbaik. Mereka pasti melakukan yang terbaik yang mereka bisa, sesuai dengan wawasan yang mereka punya. Subhanallah! Bagaimana negara ini kuat kalau keluarga sebagai bagian paling kecilnya tak berfungsi sebagaimana mestinya?

Ah, sudah saatnya sekolah menginisiasi program parenting school untuk orang tua. Sudah saatnya sekolah dan orangtua berjalan bersama bergandengan tangan. Apalagi sekolah kami, sebuah sekolah menengah kejuruan. Siswa-siswa kami adalah remaja yang masih mencari jati dirinya. Usia belasan yang masih butuh bimbingan agar tak salah jalan. Mereka tak hanya butuh dibelikan gawai dengan kuota penuh. Mereka butuh dukungan dan perhatian orangtuanya agar gawai yang mereka pegang tak menggantikan peran orangtua sebagai pendidik mereka di rumah.

Yes, fix! Bulat sudah tekadku. Akan kumulai dari kelas yang kuampu. Mulai bulan depan, akan ku undang orangtua murid di kelasku untuk datang ke sekolah untuk kelas orangtua. Ya, kelas orangtua! Bukan untuk bicara tentang iuran bulan yang akan ditanggung bersama. Bukan itu! Aku akan menyampaikan apa yang menjadi tujuan sekolah dan bagaimana kami berupaya mencapainya. Aku akan sampaikan permasalahan yang mungkin muncul pada remaja saat ini dan bagaimana kita akan berupaya mengantisipasinya. Aku yakin ini sangat penting karena tingkat pendidikan orangtua murid tidaklah sama. Aku juga akan legowo meminta masukan dari para orangtua, dan meminta mereka bercerita tentang permasalahan putri-putri mereka. mungkin sekali dua, aku akan meminta tolong rekan menjadi narasumber dalam kelas itu. Mungkin rekanku yang dari kepolisian bisa membantu memaparkan permasalahan kenakalan remaja. Mungkin rekanku yang seorang ustadz bisa menyampaikan bagaimana seharusnya kami sebagai orangtua mampu membimbing mereka sbeagaimana ajaran rasulullah. Mungkin rekanku dari bimbingan konseling akan mampu memaparkan pada orangtua tentang studi lanjut bebas biaya. Ya, itu penting. Masih banyak orangtua yang tidak tahu bahwa studi lanjut di universitas bukanlah milik mereka yang berkelimpahan uang. Aku harap, apa yang akan kulakukan akan membantu siswa-siswa kami agar lebih mudah menjalani studinya. In syaa Allah.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Luar biasa...salam

11 Mar
Balas

luar biasa mba wening

11 Mar
Balas

Terimakasih bunda

11 Mar
Balas

Terimakasih bapak

12 Mar
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali